Aplikasi Sistem Digital atau hubungna dengan peralatan analog



 

1. Pendahuluan (kembali)

            Rangkaian penjumlah biner 4-bit dengan IC 74LS83 merupakan sebuah 4-bit binary full adder yang berfungsi untuk menjumlahkan dua bilangan biner 4-bit beserta sinyal carry-in. Rangkaian ini menjadi salah satu dasar operasi aritmatika digital yang banyak diterapkan pada komputer dan berbagai perangkat elektronik. Dengan memanfaatkan IC 74LS83, proses penjumlahan dapat dilakukan secara bersamaan pada empat bit, sehingga hasil penjumlahan dan carry-out dapat diperoleh dengan cepat dan tepat. Pemahaman mengenai rangkaian ini penting karena menjadi dasar dalam perancangan unit aritmatika dan sistem digital yang lebih kompleks.


2. Tujuan (kembali)

  • Untuk menyelesaikan tugas sistem digital yang diberikan oleh Bapak Dr. Darwison, M.T.
  • Mengetahui komponen yang digunakan dalam membuat rangkaian pengaplikasian decoder dan encoder yaitu alat pendeteksi getaran dan percikan api di dapur.
  • Mengetahui bentuk rangkaian dan mensimulasikan pengaplikasian decoder dan encoder pada software proteus.

3. Alat dan Bahan (kembali)

1. Battery


Komponen yang digunakan pada rangkaian ini memiliki fitur pengaturan arus masukan secara otomatis sehingga dapat bekerja dengan berbagai sumber daya, seperti port USB maupun adaptor AC/DC. Selain itu, komponen ini mampu mendeteksi sumber daya yang digunakan dan melakukan pemilihan sumber secara otomatis untuk menjaga kestabilan proses pengisian. Tegangan masukan yang didukung berada pada rentang 4,35 V hingga 6,0 V dengan toleransi hingga 18 V saat tidak beroperasi. Komponen ini juga memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam mengatur tegangan pengisian serta mendukung pengaturan parameter secara digital melalui antarmuka I2C. Dengan fitur-fitur tersebut, komponen ini dapat digunakan untuk menghasilkan proses pengisian baterai yang lebih aman, stabil, dan efisien.

2. Sensor Flame

Switch merupakan sakelar yang digunakan untuk menyambungkan maupun memutus aliran arus listrik pada rangkaian. Sementara itu, DIP switch (Dual Inline Package switch) adalah sekumpulan sakelar kecil yang tersusun dalam satu paket/baris dan umumnya digunakan untuk memberikan masukan logika 1 atau 0 pada IC dengan cara yang lebih praktis dan rapi.

Spesifikasi:

  • Rentang spektrum kerja berada pada kisaran 760 nm hingga 1100 nm.

  • Mampu mendeteksi objek pada sudut antara 0° hingga 60°.

  • Dapat beroperasi dengan catu daya sebesar 3,3 V sampai 5,3 V.

  • Memiliki rentang suhu kerja yang cukup luas, yaitu dari -25°C hingga 85°C.

  • Dimensi fisik komponen sekitar 27,3 mm × 15,4 mm sehingga mudah diintegrasikan ke dalam rangkaian elektronika.


3. Sensor Pir

Spesifikasi:

  • Tegangan masukan: DC 4,5–20 V.

  • Arus diam: sekitar 50 µA.

  • Output akan berlogika tinggi saat gerakan terdeteksi.

  • Sudut deteksi: 110°.

  • Jarak deteksi maksimum: 6–7 meter.

  • Pengaturan trigger: H (aktif) dan L (nonaktif).

4. Sensor Vibration

Spesifikasi Sensor Getaran SW-420:

  • Tegangan suplai: DC 3,3 V – 5 V.

  • Arus kerja: sekitar 15 mA.

  • Menggunakan sensor getaran SW-420 tipe Normally Closed (NC).

  • Dilengkapi IC komparator LM393.

  • Sensitivitas dapat diatur melalui potensiometer 10 kΩ.

  • Output berupa sinyal digital (DO).

  • Dilengkapi LED indikator daya dan LED status.

  • Dimensi modul: 3,8 cm × 1,3 cm × 0,7 cm.

  • Berat: sekitar 10 gram.

5. Resistor

Features

  • Carbon Film Resistor
  • 4-band Resistor
  • Resistor value varies based on  selected parameter
  • Power rating varies based on selected parameter
6. Transistor NPN BC547

Spesifikasi Transistor BC547:

  • Tipe transistor: NPN.

  • Arus kolektor maksimum: 100 mA.

  • Tegangan kolektor-emitor maksimum: 65 V.

  • Dikemas dalam paket TO-92 (SOT54).

  • Memiliki konsumsi arus yang rendah.

  • Cocok digunakan untuk aplikasi switching dan penguatan sinyal.

  • Transistor komplemennya adalah BC556 dan BC557 (tipe PNP).

7. Relay
Spesifikasi tipe relay: 5VDC-SL-C
Tegangan coil: DC 5V
Struktur: Sealed type
Sensitivitas coil: 0.36W
Tahanan coil: 60-70 ohm
Kapasitas contact: 10A/250VAC, 10A/125VAC, 10A/30VDC, 10A/28VDC
Ukuran: 196154155 mm
Jumlah pin: 5
Pin Relay:

8. Logic State
Memiliki empat gerbang logika independen yang terdiri dari pasangan masukan 1A–2A dengan keluaran A, 1B–2B dengan keluaran B, 1C–2C dengan keluaran C, dan 1D–2D dengan keluaran D. IC bekerja menggunakan catu daya VCC dan ground sebagai referensi tegangan.
9. Dioda (1N4007)

10. Kabel

Spesifikasi:

  • Standar konduktor: DIN VDE 0295, IEC 60228, BS 6360.
  • Standar isolasi: DIN EN 50290-2-22, DIN VDE 0207-363-4-1.
  • Standar kabel: IEC 60227-5, EN 50525-2-51, VDE 0281-13.
  • Standar ketahanan api: DIN VDE 0482-332-1-2, DIN EN 60332-1-2, IEC 60332-1-2.
  • Memenuhi direktif RoHS, REACH, dan CE.
11. OP-AMP

Spesifikasi:

  • Penguatan tegangan open-loop (Av): tak terhingga (∞).
  • Tegangan offset keluaran (Voo): 0 V.
  • Impedansi masukan (Zin): tak terhingga (∞).
  • Impedansi keluaran (Zout): 0 Ω.
  • Lebar pita (Bandwidth/BW): tak terhingga (∞).
  • Karakteristik kerja stabil terhadap perubahan suhu.
12. Buzzer

Buzzer Features and Specifications

  • Rated Voltage: 6V DC
  • Operating Voltage: 4-8V DC
  • Rated current: <30mA
  • Sound Type: Continuous Beep
  • Resonant Frequency: ~2300 Hz 
  • Small and neat sealed package
  • Breadboard and Perf board friendly
13. LED


14. Motor

Features of brushed DC motors
Advantages
    No need for a drive circuit when running at constant speed
    High-efficiency design
    Able to operate at high speeds
    High startup torque
    Responsive and easy to use as speed and torque can be controlled by voltage
Disadvantages
    Motor life is shortened by the need for brushes and a commutator, which are subject to wear.
    The brushes generate both electrical and acoustic noise

15. Switch

Features 
• Constant ON resistance for signals ±10V and 100 kHz connection diagram
 • tOFF < tON. break before make action
 • Open switch isolation at 1.0 MHz -50 dB
 • < 1.0 nA leakage in OFF state • TTL. DTL. RTL direct drive compatibility
 • Single disable pin turns all sWitches in package OFF  

16. Gerbang Logika AND (IC 4081)

Gerbang AND IC 4081 merupakan gerbang logika yang membutuhkan dua atau lebih masukan (input) untuk menghasilkan satu keluaran (output). Keluaran akan bernilai logika 1 apabila seluruh masukan bernilai logika 1. Sebaliknya, keluaran akan bernilai logika 0 jika terdapat salah satu masukan yang bernilai logika 0.

Konfigurasi pin:

  • Pin 7 berfungsi sebagai catu daya negatif (GND).
  • Pin 14 berfungsi sebagai catu daya positif (VDD).
  • Pin 1 & 2, 5 & 6, 8 & 9, serta 12 & 13 merupakan pin masukan gerbang.
  • Pin 3, 4, 10, dan 11 merupakan pin keluaran gerbang.

Spesifikasi:

  • Tegangan catu daya: 3 V – 15 V.
  • Jenis fungsi: Quad 2-Input AND Gate.
  • Waktu tunda propagasi (Propagation Delay): 55 ns.
  • Level tegangan input/output: CMOS.
  • Tipe kemasan: DIP 14-pin.
17. Seven Segment


Layar tujuh segmen merupakan perangkat tampilan elektronik yang digunakan untuk menampilkan angka desimal. Perangkat ini menjadi alternatif yang lebih sederhana dibandingkan layar dot-matrix dan banyak diterapkan pada jam digital, kalkulator, alat ukur elektronik, serta berbagai perangkat lain yang memerlukan tampilan data numerik.

18. Decoder (IC 74247)


IC 74247 adalah sebuah IC decoder BCD ke 7-segmen berbasis TTL yang berfungsi mengonversi kode BCD (Binary Coded Decimal) menjadi sinyal keluaran yang sesuai untuk mengendalikan tampilan 7-segmen. IC ini bekerja pada tegangan TTL sebesar +5 V DC dan banyak digunakan untuk menampilkan angka desimal pada display 7-segmen.

4. Dasar Teori (kembali)

Dalam sistem digital, operasi aritmatika merupakan salah satu fungsi dasar yang banyak digunakan dalam proses komputasi dan pengolahan data biner. Operasi yang paling umum adalah penjumlahan biner, yaitu proses penjumlahan yang hanya menggunakan dua digit, 0 dan 1. Pada penjumlahan biner, hasil yang diperoleh terdiri dari dua bagian, yaitu sum (hasil penjumlahan) dan carry (bit bawaan). Untuk melakukan proses tersebut secara efektif, digunakan rangkaian logika yang disebut full adder.

Full adder merupakan rangkaian logika kombinasi yang memiliki tiga masukan, yaitu bit A, bit B, dan carry-in, serta dua keluaran berupa sum dan carry-out. Rangkaian ini menjadi dasar dalam pembentukan penjumlah biner dengan jumlah bit yang lebih besar atau yang dikenal sebagai multi-bit adder.

Salah satu IC yang banyak digunakan untuk penjumlahan biner 4-bit adalah IC 74LS83. IC ini merupakan 4-bit binary full adder yang mengintegrasikan empat rangkaian full adder ke dalam satu chip. IC 74LS83 dapat menjumlahkan dua bilangan biner 4-bit beserta satu masukan carry (Cin) secara bersamaan, kemudian menghasilkan keluaran berupa hasil penjumlahan 4-bit dan carry-out (Cout). Oleh karena itu, IC ini sering digunakan pada rangkaian aritmatika digital seperti ALU (Arithmetic Logic Unit) dan mikroprosesor.

Konfigurasi dan Pin IC 74LS83

IC 74LS83 memiliki 16 pin dengan fungsi sebagai berikut:

  • A1–A4 dan B1–B4 sebagai masukan operand A dan operand B (4-bit).

  • C0 sebagai masukan carry-in eksternal.

  • S1–S4 sebagai keluaran hasil penjumlahan (sum).

  • C4 sebagai keluaran carry-out.

  • VCC dan GND sebagai catu daya +5 V dan ground.

Proses penjumlahan pada IC dimulai dari bit paling rendah (LSB) menuju bit paling tinggi (MSB) dengan memanfaatkan carry internal antar bit. Keluaran sum diperoleh dari operasi logika XOR antara input A, B, dan carry-in, sedangkan carry ditentukan melalui kombinasi logika AND dan OR dari masukan yang ada.

Cara Kerja

Ketika dua bilangan biner 4-bit dimasukkan ke input A dan B, IC 74LS83 akan melakukan proses penjumlahan secara otomatis. Penjumlahan dimulai dari bit paling rendah (LSB) dan berlanjut hingga bit paling tinggi (MSB). Setiap pasangan bit dijumlahkan bersama carry-in yang berasal dari tahap sebelumnya. Hasil penjumlahan pada setiap tahap menghasilkan nilai sum dan carry. Carry yang terbentuk akan diteruskan ke tahap berikutnya hingga seluruh bit selesai diproses. Setelah proses selesai, keluaran S1–S4 menampilkan hasil penjumlahan 4-bit, sedangkan pin C4 menghasilkan carry-out akhir.


Apabila sensor getaran (vibration sensor) dan sensor api (flame sensor) tidak mendeteksi getaran maupun percikan api, maka kedua sensor berada pada kondisi logika 0. Keluaran sensor sebesar 0–0,5 V akan diteruskan ke pin A dan pin B IC 74247 sehingga seven segment menampilkan angka 0 sebagai indikator bahwa tidak ada kondisi yang terdeteksi.

Apabila sensor getaran mendeteksi adanya getaran, maka sensor akan berlogika 1. Tegangan keluaran sebesar 5 V diteruskan ke pin A IC 74247 sehingga seven segment menampilkan angka 1 sebagai tanda sensor getaran aktif. Selain itu, tegangan keluaran sensor juga masuk ke gerbang AND yang menghasilkan logika 1 pada keluarannya. Sinyal tersebut diteruskan melalui resistor ke basis transistor dengan tegangan sekitar 0,87 V sehingga transistor aktif. Saat transistor Q1 aktif, arus mengalir dari baterai ke relay sehingga relay bekerja dan kontak berpindah posisi. Kondisi ini menyebabkan arus mengalir ke motor sehingga LED menyala sebagai indikator sistem aktif.

Apabila sensor api mendeteksi adanya percikan api, maka sensor akan menghasilkan logika 1. Tegangan keluaran sebesar 5 V diteruskan ke pin B IC 74247 sehingga seven segment menampilkan angka 2 sebagai tanda sensor api aktif. Tegangan keluaran sensor juga diteruskan ke gerbang AND dan menghasilkan logika 1 pada keluaran. Sinyal ini melewati resistor dan memberikan tegangan sekitar 0,87 V ke basis transistor sehingga transistor Q2 aktif. Akibatnya relay bekerja dan kontak relay berpindah posisi. Arus kemudian mengalir ke buzzer sehingga buzzer berbunyi sebagai peringatan adanya percikan api.

Apabila sensor getaran dan sensor api sama-sama aktif, maka keluaran kedua sensor diteruskan ke pin A dan pin B IC 74247 sehingga seven segment menampilkan angka 3 sebagai indikator bahwa kedua sensor mendeteksi kondisi tertentu. Tegangan keluaran dari kedua sensor juga diteruskan ke gerbang AND U2 dan U3, kemudian mengaktifkan transistor Q1 dan Q2. Relay menjadi aktif dan kontak relay berpindah posisi sehingga arus dapat mengalir ke motor dan buzzer. Akibatnya LED menyala dan buzzer berbunyi secara bersamaan.

Apabila sensor PIR mendeteksi pergerakan seseorang yang akan keluar ruangan, maka sensor akan berlogika 1. Tegangan dari keluaran sensor diteruskan ke rangkaian op-amp yang memberikan penguatan sebesar dua kali. Setelah melewati resistor, tegangan sekitar 0,87 V diberikan ke basis transistor sehingga transistor aktif. Kondisi ini menyebabkan relay bekerja dan menutup kontak rangkaian. Arus dari baterai kemudian mengalir ke motor sehingga motor bergerak yang menandakan pintu terbuka. Selain itu, arus juga mengalir dari kolektor ke emitor transistor menuju ground sebagai jalur arus rangkaian.

6. Problem [kembali]

Dalam suatu ruangan, kondisi berbahaya seperti terjadinya getaran atau gempa bumi dan munculnya percikan api dapat menimbulkan risiko terhadap keselamatan manusia maupun peralatan yang berada di dalam ruangan. Apabila kondisi tersebut tidak terdeteksi dengan cepat, dampak yang ditimbulkan dapat menjadi semakin besar. Oleh karena itu, diperlukan suatu sistem otomatis yang mampu mendeteksi kondisi bahaya dan memberikan respons secara langsung.

Permasalahan utama pada rangkaian ini adalah bagaimana menggabungkan beberapa jenis sensor untuk mendeteksi kondisi lingkungan yang berbeda. Sensor vibration digunakan untuk mendeteksi adanya getaran atau gempa bumi, sedangkan flame sensor digunakan untuk mendeteksi adanya percikan atau nyala api. Selain itu, sensor PIR digunakan untuk mendeteksi keberadaan atau pergerakan manusia di dalam ruangan.

Sinyal yang dihasilkan oleh masing-masing sensor kemudian diproses oleh rangkaian elektronika dan sistem logika digital. Transistor digunakan sebagai sakelar elektronik untuk mengendalikan relay, sedangkan relay berfungsi untuk mengaktifkan berbagai aktuator seperti buzzer, motor, dan indikator lainnya. Dengan demikian, sistem dapat memberikan respons secara otomatis sesuai dengan kondisi yang terdeteksi.

Rangkaian ini juga menggunakan encoder, decoder, dan seven segment untuk memberikan informasi visual mengenai kondisi sensor. Kombinasi sinyal dari sensor diproses sehingga dapat menghasilkan suatu kode tertentu, kemudian decoder mengubah kode tersebut menjadi sinyal yang dapat ditampilkan pada seven segment. Dengan adanya tampilan tersebut, pengguna dapat mengetahui kondisi sistem secara lebih mudah.

Dengan demikian, permasalahan yang harus diselesaikan dalam perancangan rangkaian ini adalah bagaimana mengintegrasikan sensor vibration, flame sensor, sensor PIR, rangkaian pengondisi sinyal, transistor, relay, encoder, decoder, seven segment, dan berbagai aktuator sehingga mampu membentuk sebuah sistem pendeteksi bahaya otomatis yang dapat mendeteksi getaran, percikan api, dan keberadaan manusia serta memberikan respons yang sesuai terhadap setiap kondisi. 

7. Soal Latihan dan Jawaban

1. Jelaskan fungsi sensor vibration dan flame sensor pada rangkaian pendeteksi bahaya serta respons yang dihasilkan ketika masing-masing sensor aktif!

Jawaban:

Sensor vibration berfungsi untuk mendeteksi adanya getaran yang dapat digunakan sebagai representasi terjadinya gempa bumi. Ketika getaran terdeteksi, sensor menghasilkan perubahan sinyal keluaran yang kemudian diteruskan menuju rangkaian kontrol. Sinyal tersebut dapat mengaktifkan transistor dan relay sehingga indikator peringatan gempa bekerja.

Sementara itu, flame sensor berfungsi untuk mendeteksi adanya percikan atau nyala api berdasarkan pancaran cahaya inframerah yang dihasilkan oleh api. Ketika api terdeteksi, keluaran sensor berubah menjadi kondisi aktif dan diteruskan menuju rangkaian kontrol untuk mengaktifkan sistem peringatan, seperti buzzer, serta aktuator lain seperti pompa air apabila digunakan dalam sistem pemadaman otomatis.

2. Jika sensor vibration dan flame sensor digunakan untuk menentukan jumlah kondisi bahaya yang aktif, tentukan tampilan seven segment untuk setiap kemungkinan kondisi kedua sensor tersebut!

Jawaban:

Sensor VibrationFlame SensorJumlah Sensor AktifTampilan Seven Segment
0000
0111
1011
1122

Apabila kedua sensor tidak aktif, maka tidak terdapat kondisi bahaya yang terdeteksi sehingga seven segment menampilkan angka 0.

Apabila hanya flame sensor yang aktif, maka terdapat satu kondisi bahaya yang terdeteksi sehingga seven segment menampilkan angka 1.

Apabila hanya sensor vibration yang aktif, maka juga terdapat satu kondisi bahaya yang terdeteksi sehingga seven segment menampilkan angka 1.

Apabila sensor vibration dan flame sensor aktif secara bersamaan, maka terdapat dua kondisi bahaya yang terdeteksi sehingga seven segment menampilkan angka 2.

3. Jelaskan fungsi encoder, decoder, dan seven segment dalam rangkaian pendeteksi getaran dan percikan api!

Jawaban:

Encoder berfungsi untuk mengubah beberapa kondisi masukan menjadi suatu kode biner tertentu. Dalam rangkaian ini, sinyal yang berasal dari sensor diproses sehingga menghasilkan kode biner yang mewakili kondisi sensor yang sedang aktif.

Selanjutnya, kode biner tersebut diteruskan menuju decoder. Decoder berfungsi untuk menerjemahkan kode biner menjadi kombinasi keluaran yang sesuai agar dapat mengendalikan segmen-segmen pada seven segment.

Seven segment kemudian berfungsi sebagai indikator visual yang menampilkan angka berdasarkan hasil pengolahan kondisi sensor. Dengan demikian, pengguna dapat mengetahui jumlah atau kondisi bahaya yang sedang terdeteksi melalui angka yang ditampilkan pada seven segment.

Secara keseluruhan, encoder bertugas mengubah kondisi input menjadi kode biner, decoder bertugas menerjemahkan kode biner menjadi sinyal keluaran, sedangkan seven segment bertugas menampilkan hasil tersebut dalam bentuk angka yang mudah dibaca oleh pengguna.                                                                          

8. Percobaan [kembali]

  • Prosedur
  • Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan di library proteus, seperti sensor vibration, sensor pir, flame sensor, gerbang AND, buzzer, logic state, decoder, seven segment, resistor, transistor, opamp, dan lain-lain.
  • Susunlah alat dan bahan tersebut seperti gambar di bawah ini
  • Resistor  yang digunakan ada diberi hambatan 10k dan 220.
  • Baterai yang digunakan diberi tegangan yaitu 12V.
  • Power yang digunakan diberi tegangan yaitu 5V dan 7V.
  • Buzzer yang digunakan diberi tegangan 12V
  • Relay yang digunakan diberi tegangan 5V.
  • Setelah semua komponen terangkai, maka cobalah untuk menjalankannya.
  • Jalankan sensor Flame , Pir, Vibration  dengan menekan logicstate yaitu mengubah dari angka nol menjadi satu.
  • Jika rangkaian benar, maka sensor flame, sensor mq-2 dan sensor Pir akan bekerja  sehingga led menyala, buzzer berbunyi dan motor pun bergerak.
  • Jika logicstatenya tidak dijalankan atau berlogika 0 maka motor tidak akan bergerak, led tidak menyala, dan buzzer tidak berbunyi.
  • Jika sensor vibration diaktifkan, maka pada seven segment akan muncul angka 1.
  • Jika flame sensor diaktifkan, maka seven segment akan menghasilkan angka 2.
  • Jika sensor vibration dan flame sensor diaktifan, maka akan memberikan angka 3 pada seven segmentnya.

    Rangkaian Percobaan

Vidio Percobaan

Prinsip Kerja

⇉Apabila vibrasion sensor, flame sensor tidak mendeteksi getaran dan percikan api yaitu kedua sensor berlogika 0, maka output pada sensor sebesar 0-0.5 V akan diteruskan ke pin A dan pin B 74247 sehingga seven segmen akan menampilkan angka 0 sebagai tanda bahwa kedua sensor tidak ada menedeteksi apapun.
Apabila sensor vibrasion mendeteksi adanya getaran yaitu sensor berlogika 1 maka output sensor sebesar 5 V diteruskan ke pin A 74247 sehinnga seven segmen akan menampilkan angka 1 yang menandakan sensor vibrasi aktif. Kemudian output sensor sebesar 5V juga diteruskan ke gerbang AND maka input pada gerbang AND yaitu 1:1 sehingga output pada gerbang AND yaitu 1 lalu diteruskan ke resistor kemudian tegangan sebesar 0.87 V diteruskan ke transistor sehingga transistor aktif. Karena Q1 on maka ada arus dari batterai menuju relay sehingga relay aktif sehingga switch relay berpindah ke kiri dan relay on. dari relay arus mengalir ke kaki kolektor Q1 menuju ke emitor dan ke ground. Karena relay on dan switchnya berpindah ke kiri, arus mengalir ke battray dan dari batrai masuk ke motor sehingga led akan aktif (menyala).Apabila flame sensor mendeteksi adanya percikan api yaitu sensor berlogika 1 maka output sensor sebesar 5V diteruskan ke pin B 74247 sehinnga seven segment akan menampilkan angka 2 yang menandakan sensor flame aktif. Kemudian output sensor sebesar 5V juga diteruskan ke gerbang AND maka input pada gerbang AND yaitu 1:1 sehingga output pada gerbang AND yaitu 1 lalu diteruskan ke resistor kemudian tegangan sebesar 0.87 V diteruskan ke transistor sehingga transistor aktif. Karena Q2 on maka ada arus dari batterai menuju relay sehingga relay aktif sehingga switch relay berpindah ke kiri, dari relay arus mengalir ke kaki kolektor Q2 menuju ke emitor dan ke ground. Karena relay on maka arus mengalir ke battray dan dari baterai masuk ke buzer sehingga buzer aktif.
Apabila sensor vibrasi dan senso flame aktif maka output dari sensor vibrasi dan sensor flame akan diteruskan ke pin A dan pin B 74247 sehingga seven segment akan menampilkan angka 3 yang menandakan kedua sensor aktif sehingga output dari kedua sensor sebesar 5V diteruskan ke gerbang AND U2 dan U3 lalu diteruskan ke transistor karena transistor on maka ada ada arus dari batterai masuk ke relay sehingga relay aktif dan switch pada relay berpindah ke kiri dari relay arus mengalir kek kaki kolektor Q1 dan Q2 menuju ke emitor dan ke ground . Karena relay on maka arus mengalir ke motor dan buzer sehingga led dan buzer aktif.
Apabila sensor pir mendeteksi adanya pergerakan orang yang akan keluar dari ruangan, maka sensor pir akan berlogika 1, sehingga ada arus yang mengalir dari power supply menuju vcc, kemudian dikeluarkan menuju kaki out, sehingga adanya tegangan yang masuk menuju resistor, kemudian diumpankan pada sebuah opamp, dimana disana terjadi penguatan sebanyak 2 kali. Tegangan tersebut ditersukan ke resistor, sehingga tegangannya menjadi 0.87. Tegangan ini mampu mengaktifkan kaki base transistor, sehingga ada arus mengalir dari power supply ke relay, yang menyebabkan relay aktif sehingga rangkaian lop pada relay menjadi tertutup yang menyebebkan adanya tegangan dari baterai yang mempu mengaktifkan motor sehingga motor bergeraknyang menandakan bahwa pintu terbuka. Selian itu arus pada relay juga diteruskan pada kaki colector terus ke emiter terus ke ground.

9. Download File [kembali]






Komentar

Postingan populer dari blog ini

PHASE-LOCKED LOOP FIG 13.27 DAN 13.28

LPF -20 dB

HPF 40 dB